KATAK TELAH JADI SAYA

   Dulu-dulunya, baik kata orang tua baik kata kata buku-buku, saya adalah seekor katak. Dan saya tidak kepingin membantah keterangan itu. Sebab saya pikir itu wajar saja. Menurut cerita orang-orang selanjutnya, bahkan saya adalah seorang pangeran yang mewarisi sebuah kerajaan di pesisir laut Jawa. Itupun saya pikir wajar juga. Jadi biarlah.
   Tetapi menurut saya, dulu-dulunya saya memang seekor katak. Pada waktu saya menjadi katak itu, saya ingin menjadi lembu, tetapi tidak terlaksana. Dan sekarang saya ini telah menjadi manusia, satu hal yang tidak pernah saya inginkan.
      Ceritanya begini:
      Waktu itu saya adalah seekor katak. Saya tinggal di sawah Pak Tani. Pekerjaan saya tentu berceloteh, kalau malam. Siang hari bengong atau melompat-lompat. Tapi saya punya pacar juga. Namanya Yoan. Orangnya, eh, kataknya, mungil dan lucu. Pipinya gemuk. Matanya bundar, besar, dan suka berkedip-kedip seperti cicak mabuk tembakau.
      Kami pacaran tidak kenal waktu. Pagi, siang, sore, atau malam, tidak peduli pada apa pun dan siapa pun juga. Juga tidak peduli pada ular yang tanya kenapa hujan turun-turun aje, atau sang bangau atau sang ikan. Pokoknya kalau hujan, ya hujan aje, nggak usah ribut.
      Tempat pacaran kami adalah di balik semak-semak, persis seperti orang, supaya aman, supaya tidak diketahui sapi. Sering juga kami pacaran di balik tanaman padi. Tetapi kami tidak ingin mati di atas padi seperti ayam yang sial, seperti peribahasa itu lho! Karena itu kami sangat hati-hati.
     Tetapi dasar sial. Suatu ketika lembu berjalan seenaknya di tengah sawah itu (dan sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa Pak Tani membiarkan lembu itu berjlan-jalan di tengah sawah yang hampir panen, sebab hal itu akan menyebabkan rusaknya padi), tetapi karena hal itu mesti terjadi juga, yah apa boleh buat. Yoan kekasih saya itu akhirnya keinjak dan mati. Dasn karuan saja saya jadi pusing tujuh keliling. Saya getun. Sempoyongan dan patah hati. Dan betapa bencinya saya kepada lembu itu.
     Lalu adalah wajar jika kemudian saya mempunyai dendam tak alang kepalang kepada makhluk gemuk yang dungu itu. Dan dendam itu semakin bertambah besar ketika saya menyadari bahwa bagaimanapun saya tidak mungkin menggebrak si dungu itu, karena badan saya kecil dan tenaga saya sedikit. Satu-satunya jalan adalah menjadi lembu dahulu supaya bisa mengimbangi kekuatannya. Untuk itu diperlukan doa. Dan saya lantas berdoa siang dan malam supaya bisa menjadi lembu. Tetapi rupanya memang benar bahwa doa yang disertai iktikad jahat tidak akan pernah terkabul. Akan sia-sia dan usaha saya itu memang sia-sia. Saya tetap hanya menjadi katak. Dan lembu itu masih juga penentang-petenteng ke saya ke mari sambil terus-menerus hendak menginjak-injak saya.
     Dan saya telah kehilangan Yoan, sungguh merana nasibnya. Badan saya kian menjadi kurus, sakit-sakitan serta lebih sering lagi bengong. Bloon banget deh!
     Saya jadi lebih sering menyendiri atau pergi ke tepi sungai, nongkrong di atas bak sambil memandangi riak air yang mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut.
     Dan pada saat itulah datang Batara Narada dari Jonggring Saloka, turun ke Marcapada, ke tepi sungai itu, menemui saya. Dan saya yang sama sekali tidak menyanggka kalau akan didatangi dewa, tentu saja jadi terkejut. Saya lantas melompat terbirit-birit. Dan Batara Narada yang gembrot itu lantas sibuk kian kemari hendak menangkap saya. Giigih sekali. Saya jadi tambah takut, meskipun diam-diam merasa geli melihat seorang dewa bertingkah seperti katak, melompat-lompat hendak menangkap katak. Saya jadi ingat Yoan pacar saya yang pernah menyanyi, " Mama, lihatlah, saya melompat ....  dan seterursnya."
     "Kemarilah sang kodok!" kata dewa itu, kecapaian. Saya kasihan juga. Lalu saya berhenti dan menghampirinya.
     "Ada apa?" tanya saya, "Kok jauh-jauh dari langit turun ke sungai, seperti dari mana datangnya cinta dari sawah turun ke sini."
     "Saya bertanya kepadamu, kenapa kamu bertapa terus?"
     "Saya?"
     "Iya, kamu. Kenapa kamu bertapa terus, apa yang kamu kehendaki?" tanya dewa itu lagi.
     Saya tambah tak mengerti. Soalnya saya tidak pernah bertapa selama ini. Saya hanya pernah berdoa untuk jadi lembu, dan itu tidak terkabul, lalu saya berhenti berdoa dan sekarang saya sudah tidak kepingin jadi lembu. Saya hanya kangen sama Yoan. Itu saja. DAn karena itulah saya lantas sering nongkrong di tepi sungai itu, nglamun. Sekarang turun seorang dewa yang mengira bahwa saya bertapa. Dewa apaan itu?
     "Baiklah." Kat dewa itu lagi. "Biarpun kamu tidak menjawab pertanyaanku, aku sudah tahu bahwa kamu ingin jadi manusia. Nah, sekarang jadilah kamu manusia! Puah!"
     Dewa itu menghilang dengan gaib. Dan saya terbengong-bengong. Saya merasa betapa badan saya menjadi besar. Dan ketika saya menengok ke dalam sungai, saya menlihat bahwa saya telah menjadi manusia. Bukan main. Saya tak habis pikir. Betapa tololnya dewa itu. Tetapi apa boleh buat katak telah jadi orang. Saya hanya bisa menerima.
    
    

0 Response to "KATAK TELAH JADI SAYA"

Posting Komentar

Powered by Blogger