Menghindar dari si teroris kecil bernama LPG
Dahulu kasus LPG (Liquefied Petroleum Gas) meledak tidak seramai tahun ini. Sudah banyak korban yang diakibatkan dari penggunaan LPG terutama dari tabung LPG yang ukuran kecil 3Kg. Kalau ditanya siapa yang salah pasti saling menuding, yang satu bilang kalau yang salah pemerintah sedangkan satunya lagi bilang kalau cara pemasangan regulatornya, ininya, itunya tidak sesuai dengan tata cara atau aksesoris *halah* LPG tidak masuk kategori SNI (Standar Nasional Indonesia).
Suatu hari secara tiba-tiba di kamarku tercium bau kotoran kebo. Penasaran juga mencari sumber bau itu, dan ternyata berasal dari tabung LPG. Dulu bau gas yang keluar dari LPG tidak bau kotoran kebo, aku ingat betul dengan bau gas itu. Sebetulnya gas dari tabung LPG itu adore-less atau tidak berbau. Tetapi para ilmuwan sepakat *halah* untuk memberi aroma sebagai penanda bahwa tabung mengalami kebocoran. Di sini aku protes kenapa para ilmuwan memilih bau kotoran kebo sebagai penanda? Kenapa tidak memilih aroma yang lebih nose-friendly?
Aku sendiri sudah mencoba bermacam cara untuk menghindari kebocoran dari tabung LPG itu, mulai dari mengganti regulator yang harganya lebih mahal yang konon katanya lebih aman, mengganti seal karet dengan yang baru sebelum memasang regulator, sampai menambahkan pengaman segitiga untuk mengunci regulator pada tabung. Tapi tetap saja dalam hitungan hari masih saja tercium bau kotoran kebo, bau pilihan para ilmuwan *halah*. Akhirnya jadi ingat moto “secure for now, may not secure for tomorrow“.
Entah ini sebagai solusi atau bukan kami beralih menggunakan Blue Gas. Regulatornya mempunyai bentuk yang berbeda, dia menggunakan ulir. Dengan menggunakan ulir kemungkinan gas bocor bisa diminimalisir. Kemungkinan bocor bisa terjadi dari selang antara ujung regulator sampai dengan kompor. Penggunaan Blue Gas mungkin belum memasyarakat, yang menjual juga tidak begitu banyak. Aku sendiri di kota Malang membeli Blue Gas di daerah pasar Sukun. Mungkin ini salah satu solusi, bisa jadi bersifat sementara atau selamanya sampai ada solusi yang lebih baik.
Ssttt.. yang jual Blue Gas di pasar Sukun engkoh moody. Kadang baik, kadang juga sering menatap sinis ke pelanggannya. Bagiku lebih mudah menghadapi engkoh moody dari pada bau kotoran kebo pilihan ilmuwan.
Suatu hari secara tiba-tiba di kamarku tercium bau kotoran kebo. Penasaran juga mencari sumber bau itu, dan ternyata berasal dari tabung LPG. Dulu bau gas yang keluar dari LPG tidak bau kotoran kebo, aku ingat betul dengan bau gas itu. Sebetulnya gas dari tabung LPG itu adore-less atau tidak berbau. Tetapi para ilmuwan sepakat *halah* untuk memberi aroma sebagai penanda bahwa tabung mengalami kebocoran. Di sini aku protes kenapa para ilmuwan memilih bau kotoran kebo sebagai penanda? Kenapa tidak memilih aroma yang lebih nose-friendly?
Aku sendiri sudah mencoba bermacam cara untuk menghindari kebocoran dari tabung LPG itu, mulai dari mengganti regulator yang harganya lebih mahal yang konon katanya lebih aman, mengganti seal karet dengan yang baru sebelum memasang regulator, sampai menambahkan pengaman segitiga untuk mengunci regulator pada tabung. Tapi tetap saja dalam hitungan hari masih saja tercium bau kotoran kebo, bau pilihan para ilmuwan *halah*. Akhirnya jadi ingat moto “secure for now, may not secure for tomorrow“.
Entah ini sebagai solusi atau bukan kami beralih menggunakan Blue Gas. Regulatornya mempunyai bentuk yang berbeda, dia menggunakan ulir. Dengan menggunakan ulir kemungkinan gas bocor bisa diminimalisir. Kemungkinan bocor bisa terjadi dari selang antara ujung regulator sampai dengan kompor. Penggunaan Blue Gas mungkin belum memasyarakat, yang menjual juga tidak begitu banyak. Aku sendiri di kota Malang membeli Blue Gas di daerah pasar Sukun. Mungkin ini salah satu solusi, bisa jadi bersifat sementara atau selamanya sampai ada solusi yang lebih baik.
Ssttt.. yang jual Blue Gas di pasar Sukun engkoh moody. Kadang baik, kadang juga sering menatap sinis ke pelanggannya. Bagiku lebih mudah menghadapi engkoh moody dari pada bau kotoran kebo pilihan ilmuwan.

0 Response to "Menghindar dari si teroris kecil bernama LPG"
Posting Komentar